Sajak Untuk Sang Cinta

“SAJAK UNTUK SANG CINTA”

 “Cinta, kalau Rindu memang sudah gila, barangkali empat yang menyudut itu sudah keburu berpisah, tak lagi sempat menyimpang diri satu dengan yang lainnya. Kalau kamu masih ragu, kembalilah. Cinta, aku tidak hilang, aku ada. Kamu cukup hanya percaya.”

Jika memang betul konsepsi aturan paradoks itu benar adanya, dan jika memang harus aku menunjuk sampel yang betul-betul nyata, maka atas pertimbangan sederhana dari sekelumit pengalaman yang rumit, aku akan menjawab dengan mantap: Cinta adalah Paradoks tergila yang nyata adanya.

Maka ketika pagi menyongsong dan aroma udara serupa tanah, dan dedaunan sibuk berbasah, aku akan menemukan kawanku yang setia terduduk di depan serambi rumahnya, merenungi hari-hari yang lalu, dan senantiasa menagih janji-janji yang pernah diberi kepadanya kepada burung-burung liar yang bernyanyi tanpa dosa.

Aku tidak akan bertanya, namun dia akan senantiasa menjelaskan. Aku tidak akan paham dan dia akan senantiasa berusaha membuatku semakin tidak mengerti. Siklus itu bertahan terus-menerus. Dan kami akan berputar, menunggu dengan penasaran siapa yang akan terjatuh terlebih dahulu.

***

Perempuan itu tidak lagi secantik dulu. Gurat-gurat wajahnya tidak semengesankan dulu. Senyumnya kini lumpuh oleh kesedihan yang tidak pernah terhapus dari mata hitamnya. Dulu hitamnya berkilau, kini terasa kelam dan menyakitkan. Aku terus melihatnya begitu, semakin hari kian pula semakin memburuk. Rasanya hatiku hancur sedemikian parah. Namun tak ada pula daya berbuat sesuatu untuknya.

Aku menyebut perempuan itu kawanku. Kawanku yang dulunya cuma perlu tersenyum untuk membuat seluruh dunia menghangat.  Kawanku yang dulunya cuma perlu bernyanyi untuk meredam tangis hati. Kawanku yang dulunya cuma perlu tertawa untuk menanam bahagia.

***

Ah, kawanku. Dan kisah cintanya.

Aku lah yang menjadi saksi bagaimana dia menguntai senyum yang cemerlang ketika jatuh hati, aku lah yang menjadi saksi bagaimana tulus kasih dan seutuhnya ia memberi ketika ia mencintai, dan aku lah yang menjadi saksi gilanya dia terseok-seok oleh luka dari hati yang patah.

Maka pada hari ketika bulan yang terbelah masih berusaha tampak perkasa dan menggantung gagah di atas langit, aku mendengarkannya berceritera. Pada malam di mana hujan lama sekali tidak turun,  dan jangkrik tidak lelah menghancurkan sunyi, dia mengadukan degup jantung yang tak mau dikuasa pada perjumpaannya dengan pujaan hatinya. Pada malam dimana dia tersenyum penuh arti, dan aku mengiba diriku sendiri, ia mengabarkan seuntai peristiwa magis tepat ketika ia bertatap pandang dengan laki-laki itu untuk pertama kalinya.

***

Aku tidak mengenal laki-laki ini, tapi kawanku berkisah terlalu banyak tentangnya sehingga aku cukup tahu. Laki-laki itu hidup dengan gayanya yang bebas, tidur beratapkan kap mobil, dan terus melaju diantara jalan-jalan beraspal. Membelah dunia dengan kedua kakinya. Menelusur setiap daratan yang mungkin disinggahinya. Berpindah ke sana dan di sini, menghabiskan setengah hidup di belantara negeri Cina, dan setengahnya lagi di benua di barat sana. Menurut kawanku, laki-laki itu mengagumkan, penampilannya selalu memikat di hati tanpa perlu berusaha banyak. Dan  konon, yang tergila dari kesempurnaan laki-laki itu adalah kepiawaiannya mencipta sajak-sajak menggemparkan.

“Dia membuatkanku sebait puisi yang begitu sederhana. Sekalipun begitu, ketentramannya sudah merangsek jauh-jauh ke dalam lubuk hatiku, percayakah kamu? Dia seperti pahlawan berkuda yang bertahun-tahun ini kunanti dan kudamba, dan datang membawa segenap hal yang selama ini hanya sekadar ada di dalam angan, katakan padaku, bagaimana mungkin aku tidak jatuh cinta?”

“Kawanku, kamu yakin tentang ini?”

“Tak pernah lebih yakin. Kamu juga harus bertemu dengannya. Dia harus bertemu dengan sahabat laki-laki, yang lebih mirip dengan kakakku sendiri, dan menjagaku selama ini!”

Dan kami pun bertemu.

Dan ketika aku bertemu laki-laki itu pertama kali, pada suatu perjumpaan tak sengaja yang kami pun tak mengharapnya, aku cukup mengerti apa yang dibicarakan kawanku. Laki-laki ini punya seribu alasan untuk membuat kawanku jatuh hati. Namun, aku tahu sesuatu yang kawanku tidak. Aku melihat pucat bukanlah warna asli dari kulitnya, aku melihat luka jahit di perutnya secara tak sengaja, dan aku juga sempat mendapatinya mengusap cairan kental merah dari hidungnya.

Aku tidak bertanya.

Namun pada suatu waktu, ketika aku melihatnya memuntahkan cairan merah yang sama dari mulutnya, aku memperbincangkannya. Dan dia menyuruhku untuk diam. Maka aku diam.

***

Laki-laki itu memanggil kawanku, “Cinta.” Dia buatkan untuknya sajak-sajak penuh makna, bersama tangkai-tangkai bunga  yang senantiasa dikirimkannya setiap pagi buta. Aku pun mulai percaya, dia laki-laki yang pantas menyandingnya. Laki-laki itu membuat kawanku bahagia. Dan yang terpenting, laki-laki itu bersedia mempersembahkan seluruh dirinya untuk perempuan yang dipanggilnya “Cinta”.

Pada suatu malam di pertengahan agustus yang dingin, ketika angin hanya lewat di pekarangan rumah kawanku dengan lembut, dedaunan yang gugur melayang perlahan-lahan sebelum mencium tanah, lantas bintang bersinar seolah tidak ada hari esok, dan aroma udara mengingatkanku terhadap sekumpulan kuntum-kuntum mawar, aku mendengarnya mempersembahkan puisi yang lirih kepada kawanku,  “Cinta, kalau sesaat saja angin mampu berkata-kata, daun-daun yang luruh itu tak akan pernah menyalahkannya. Dan kalau sesaat saja air-air yang menetes dan melubangi permukaan batu berhenti, batu itu akan mulai berkata-kata, merindu yang biasanya ada. Maka, ketika sajak-sajak ini abadi, kita yang kita, akan ada dalam suatu masa dan peristiwa, yang kelak akan kausadari harganya.”

Waktu itu, aku setengah berharap kawanku benar-benar memahami maknanya. Laki-laki itu, seperti yang kawanku ceritakan, begitu piawai bersajak. Aku bisa merasakan cinta yang murni dari puisi dan tatap matanya yang terus menerus bercerita, barangkali seribu kali lebih keras dibanding puisi-puisinya.

Dan pada suatu hari di akhir desember ketika hujan deras menghantam tanah tanpa ampun, ketika petir menyambar langit dengan suara guntur yang tak pernah lelah menjadi pengiring, dan udara dingin yang selalu kunanti tak terasa menyejukkan lagi, aku mendengarnya membisikkan puisi kepada kawanku, “Cinta, kalau memang senja mengiba, dan tak ada kuasa untuk menolaknya, maka tunggulah fajar. Dia akan memberimu harap yang lebih baik.”

Kali itu, aku tidak berusaha keras memaknai sajaknya. Tapi apa yang kumengerti barangkali tidak sama dengan yang dimengerti kawanku. Kawanku membiarkan dirinya hilang dalam rengkuh laki-laki itu sembari tersenyum bahagia, sedangkan hatiku bersedih. Aku memang bahagia melihat kawanku bahagia seperti ini. Akan tetapi, suatu hari, barangkali tak lama lagi, jika laki-laki itu kelak kehabisan waktu yang dimiliki, aku tahu ia akan bersedih, dan aku tahu pasti jiwaku ini tak akan sanggup menjadi saksi. Dan entah mengapa, kali itu, aku tidak merasa sajak laki-laki itu indah dan menenangkan, atau menjanjikan satu harapan yang meyakinkan. Bagiku, bait puisi yang barusan indah dengan cara yang paling menyakitkan, terasa cantik dengan cara yang paling menyedihkan.

Sebagai laki-laki, aku memahami makna yang dilampirkan raut wajah laki-laki itu ketika mencium kening kawanku sembari membisikkan baitnya.

Tulus dan kental kasih cinta. Harap yang kian terkikis namun enggan lenyap pula. Dan luka yang berkawan putus asa.

***

Ketika hujan deras menjelma menjadi satu hal yang biasa terjadi pada tiap-tiap harinya, dan serombongan bunga desember merah mekar menghiasi taman rumahku, aku menjadi saksi hidup bagaimana cinta mereka tumbuh dengan begitu cepat. Ketika udara panas di siang hari dan mentari meraja dengan gagahnya di setiap siang, aku melihat cinta mereka nyata, hidup, dan berkobar-kobar. Ketika musim penghujan tiba lagi dan menggantikan kemarau itu, aku melihat kobar cinta itu mulai memudar, berubah menghangat, dan menyejukkan. Dan ketika musim kemarau hadir kembali, aku tidak melihat cinta itu layu atau mati, aku hanya melihat laki-laki itu semakin menyakitkan dalam berpuisi, dan semakin sayu dalam memandang mata kawanku.

Dan ketika laki-laki itu mengunjungiku di suatu malam yang terlampau sunyi dan langitnya tidak berbintang serta bulan tak nampak diperaduan, dia bicara padaku, bercerita banyak hal yang tidak ingin dia ceritakan. Dan aku harus mendengarkan hal yang tak ingin kudengarkan. Maka saat itu, akulah lagi yang harus menanggung beban atas lukaku sendiri, sedikit dari lukanya, dan luka dari ketakutan yang mendalam akan kesedihan yang mungkin tengah setia menanti kawanku di suatu tempat dan suatu hari yang akan datang dengan pasti.

“Teman, kalau aku mati, aku akan berhenti berpuisi. Tapi sajak-sajakku abadi.” Laki-laki itu menatap udara yang kosong ketika berbicara.

“Kamu pikir begitu? Lalu aku akan melihat kawanku menggumamkan sajak-sajakmu dalam kesedihannya?”

“Percaya padaku, aku juga tidak ingin itu terjadi. Tapi mati perkaranya Ilahi. Aku akan hidup jika Dia masih menghendaki. Aku tidak ingin memvonis umurku secepat ini.”

Aku percaya. Waktu itu, kupikir, kalau memang kawanku harus terluka, ia memang harus terluka pada saatnya. Saat ini, setidaknya ia boleh bahagia bersama laki-laki yang dicintainya, selama mungkin laki-laki itu masih ada.

Dan ketika laki-laki itu meninggalkan rumahku denganku yang memandangi kepergiannya, disaksikan oleh kesunyian, dingin angin malam, dan langit kosong tak berbintang, aku berikrar dengan sepenuh hatiku, dengan seluruh jiwaku turut serta, bahwa aku akan senantiasa ada untuk kawanku dalam menghadapi apapun yang harus dijalaninya nanti, seburuk apapun, dan sesakit apapun. Ikrarku akan menggema selama ribuan malam-malam nanti, menggaung dan akan terus terngiang di telingaku, beresonasi di kepalaku tanpa akan pernah berhenti. Dan secara pasti, akan kutepati.

“Kawanku, laki-laki ini berjanji untuk menjagamu, menemanimu, dan dengan setia ada di sisimu, hingga raga ini tak sanggup lagi.”

Setidaknya itu yang aku tahu saat itu.

***

Dan suatu saat, pada satu malam tak bersalah dengan bintang-bintang yang berkilau cemerlang dan bulan purnama seutuhnya, bermulalah nyanyian sendu sajak-sajak menyedihkan yang lirih oleh kawanku. Nyanyian yang melukaiku, menyakitiku, dan mencabik-cabik jiwaku tanpa ampun.

Kawanku menyenandungkan syair-syair serupa yang pernah laki-laki itu senandungkan untuknya. Puisi paling akhir sang laki-laki yang dipersembahkan dengan segenap jiwa dan cinta kepada kawanku, yang dibuatnya dengan asa terakhir, napas terakhir, getar terakhir, juga degup terakhir di dada. Aku bisa membayangkan bagaimana dahsyat rasa sakit yang harus diderita laki-laki itu ketika menciptakannya. Rasa sakit yang menggilas dada yang harus ia lawan ketika ia tahu ia akan pergi setelahnya, dan ia tahu bahwa ia, secara pasti akan menyakiti satu-satunya cinta yang begitu ingin ia jaga.

Dan perempuan itu, dengan berani tetap meyakini, meski barangkali jauh di lubuk hatinya ia mengerti, ia tetap akan menanti laki-laki itu hingga malam hari pada seribu malam setelahnya, menggemakan sajak terakhir yang dicipta hanya untuk Sang Cinta —untuknya. Perempuan itu, asanya tetap hidup, meski sinarnya meredup. Ia percaya, laki-laki itu akan kembali padanya suatu hari nanti seperti yang ia tuang dalam sajaknya.

Maka ketika pagi menyongsong dan aroma udara serupa tanah, dan dedaunan sibuk berbasah, aku akan menemukan kawanku yang setia terduduk di depan serambi rumahnya, merenungi hari-hari yang lalu, dan senantiasa menagih janji-janji yang pernah diberi kepadanya kepada burung-burung liar yang bernyanyi tanpa dosa.

***

“Cinta, kalau Rindu memang sudah gila, barangkali empat yang menyudut itu sudah keburu berpisah, tak lagi sempat menyimpang diri satu dengan yang lainnya. Kalau kamu masih ragu, kembalilah. Cinta, aku tidak hilang, aku ada. Kamu cukup hanya percaya.”

***

 

 

 

 

 

[DIRAMADHANI]

 

 

 

 

Tinggalkan Balasan